REFORMED
EXODUS
COMMUNITY
Apakah Mereka yang Melihat Diberkati, atau Mereka yang Tidak Melihat Diberkati? (Luk. 10:23 vs Yoh. 20:29)
Artikel
Penulis Nike Pamela
Pertanyaan minor namun yang seringkali dipertanyakan adalah “mengapa kita bisa tahu bahwa ular yang disebutkan dalam Kej. 3 adalah representasi dari iblis” dan “mengapa ular bisa berbicara?”
Banyak penafsir menyatakan bahwa kemunculan ular di Kej. 3 hanya bersifat simbolis yang sebenarnya menggambarkan setan yang sedang berbicara dalam hati Hawa. Namun penafsiran ini berlawanan dengan maksud penulis Kejadian:
– dalam 3:1, ular dibandingkan dengan binatang di darat lainnya yang diciptakan Tuhan; jika binatang darat lainnya adalah sesuatu yang nyata, maka ularpun pasti sesuatu yang nyata, bukan simbolis
– dalam 3:13, Hawa mempersalahkan ular dan bukan iblis
– dalam 3:14, penghukuman terhadap ular dan keturunannya juga bersifat nyata, yaitu ular akan menjalar dengan perutnya dan debu tanah akan menjadi makanannya
– dalam bahasa Ibraninya, tidak ada indikasi bahwa ular tersebut adalah u lar simbolis.
Kata Ibrani nahas (ular) adalah kata yang umum dipakai dalam bahasa Ibrani (sekitar 30 kali) untuk merujuk pada ular (bdg. Bil. 21:7-9; Ul. 8:15; Ams. 23:32). Dalam bagian Alkitab lainnya, mis 2 Kor. 11:3, Paulus mengutip kisah penciptaan dengan menyebut ular, bukan iblis, yang memperdayai Hawa.
Dengan demikian kesimpulan yang didapat adalah bahwa ular tersebut adalah ular real secara fisik. Namun apa yang dilakukannya terhadap manusia tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan ada pengaruh dari luar, yaitu setan.
Penafsir Yahudi dan Kristen awalnya mengidentikkan ular dengan setan atau iblis, namun karena tidak adanya kaitan antara ular dan setan pada tulisan-tulisan PL yang awal, maka penafsir modern meragukan hal ini.
– Ada yang menafsirkan bahwa ular adalah simbol dewa kesuburan orang Kanaan sehingga Kejadian 3 sebenarnya sedang mengilustrasikan tentang alternatif pilihan untuk taat pada Tuhan atau Baal. Namun pandangan ini banyak ditentang para sarjana.
– Westermann menyatakan pendapat bahwa penyebutan ular sebagai makhluk ciptaan Allah merupakan perwakilan pernyataan atau kontras terhadap musuh terbesar dari iman yang sejati.
– Ada pula sarjana yang menyatakan bahwa ular-ular jaman kuno dulu merupakan symbol dari kehidupan, hikmat dan ketidak teraturan.
Namun para sarjana mayoritas menafsirkan ular identik dengan iblis. Ada beberapa indikasi yang menghubungkan ular dengan iblis:
– dalam kitab Kebijaksanaan Salomo 2:24 “tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu.”
– dalam tulisan-tulisan Yahudi lainnya, Sammael (Malaikat Maut) disebut sebagai “Ular Tua.”
– Gilgamesh Epic menceritakan kisah bagaimana Gilgamesh menemukan sejenis tanaman yang dapat menghindarkannya dari kematian. Sayangnya ketika dia sedang berenang di sebuah kolam, seekor ular muncul dan menelan habis tanaman tersebut. Dengan keadaan tersebut, dia berpotensi menjadi makhluk yang immortal
– Orang Roma mengidentifikasikan setan (dalam istilah mereka, Teitan) dengan “ular yang mengajar manusia” yang membuka mata manusia (kecuali orang buta) dan memberikan pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Pandangan ini juga dianut di Pergamus dan Asia Kecil. Utamanya di Pergamus, tempat bertahtanya setan (yang menyatakan kedudukan/keilahian matahari) disembah dalam wujud seekor ular dan dikenal dengan nama “Aesculapius” artinya manusia yang memerintah ular”
Kesimpulan yang dapat ditarik adalah:
Permasalahan selanjutnya adalah jika ular yang dimaksud adalah binatang ular, bukan iblis, bagaimana mungkin ular bisa berbicara dan dengan bahasa apa dia dapat meyakinkan Hawa?
Ada beberapa pandangan tentang hal ini:
Dengan mempertimbangkan beberapa hal berikut:
Kalau Alkitab menggambarkan ‘ular yang berbicara’, hal itu merupakan salah satu cara penulis Alkitab untuk memudahkan pembaca memahami apa yang terjadi dengan cara yang efektif.
NK_P
Artikel Lainnya
Apakah Mereka yang Melihat Diberkati, atau Mereka yang Tidak Melihat Diberkati? (Luk. 10:23 vs Yoh. 20:29)
Bagaimana Kita Dapat Merasa “Lapar dan Haus Akan Kebenaran”?
Eksposisi Filipi 4:18-20
Menurut Lukas 6:26, Apakah Nama Baik itu Berkat atau Kutuk?
Apakah 1 Korintus 6:1-11 Melarang Orang Kristen Menempuh Jalur Hukum?
Bebas dari Hawa Nafsu (Galatia 5:24-26)
Donasi: Jika Anda merasa diberkati melalui situs ini dan ingin membantu agar situs ini tetap online, mohon pertimbangkan untuk memberikan donasi kecil untuk membantu biaya hosting dan bandwidth. Tidak ada minimum donasi, setiap jumlah sangat kami hargai. Terima kasih atas dukungan Anda.