Apakah Mereka yang Melihat Diberkati, atau Mereka yang Tidak Melihat Diberkati? (Luk. 10:23 vs Yoh. 20:29)
Artikel
Penulis Yakub Tri Handoko
Yefta adalah salah satu dari beberapa hakim yang memerintah di era hakim-hakim Israel setelah kematian Yosua. Latar belakang kehidupan Yefta bukanlah latar belakang yang baik menurut pandangan sosial di masa itu. Bapak Yefta adalah Gilead yang telah mempunyai istri dan anak-anak; sedangkan Yefta adalah anak Gilead dengan perempuan sundal. Saudara-saudara tirinya mengusir Yefta tanpa memberikan milik pusaka karena dia adalah anak hasil persundalan.
Ketika bangsa Amon datang menyerang dan menindas bangsa Israel, orang-orang Gilead mendatangi Yefta, memintanya untuk menjadi kepala panglima yang akan memimpin mereka melawan bangsa Amon. Yefta menyanggupinya dengan persyaratan tertentu. Singkat cerita, Yefta berusaha mencari celah menyerang raja dan bangsa Amon. Di tengah usahanya menyerang bangsa Amon, Yefta bernazar kepada Tuhan, “Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran” (Hak. 11:30-31).
Tuhan memberikan kemenangan kepada bangsa Israel melawan bangsa Amon di bawah kepemimpinan Yefta. Ironisnya, seperti nazarnya kepada Allah, orang pertama yang menemuinya di pintu rumahnya adalah anak perempuannya. Alkitab memberikan penjelasan terhadap anak perempuan Yefta ini : Dialah anaknya yang tunggal; selain dari dia tidak ada anaknya laki-laki atau perempuan (ay. 34). Alkitab menyatakan bahwa Yefta melakukan kepadanya apa yang telah dinazarkannya itu (ay. 39).
Kisah tentang Yefta yang mengorbankan anak perempuannya nerupakan salah satu narasi dalam Alkitab yang cukup membingungkan untuk dipahami. Paling sedikit ada dua masalah yang saling berkaitan sehubungan dengan teks ini. Pertama, apakah Yefta benar-benar mempersembahkan anak perempuannya sebagai kurban bakaran? Ataukah istilah ‘mempersembahkan anaknya sebagai kurban bakaran’ hanya merujuk pada kondisi lain; dengan kata lain istilah itu hanya merupakan idiom atau kiasan? Kedua, seandainya memang ia melakukannya, bagaimana Allah bisa menerima persembahan tersebut, bahkan memuji dan menempatkan Yefta di anatara tokoh-tokoh iman lainnya (Ibr 11:32), padahal isi sumpah tersebut tidak sesuai dengan Firman Tuhan? Isu ini telah lama diperbincangkan di antara orang Kristen awam ataupun menjadi bahan perdebatan para sarjana Alkitab.
Ada beberapa argumentasi yang menolak pandangan bahwa Yefta tidak mungkin mempersembahkan anaknya sebakai korban bakaran.
Artikel Lainnya
Apakah Mereka yang Melihat Diberkati, atau Mereka yang Tidak Melihat Diberkati? (Luk. 10:23 vs Yoh. 20:29)
Bagaimana Kita Dapat Merasa “Lapar dan Haus Akan Kebenaran”?
Eksposisi Filipi 4:18-20
Menurut Lukas 6:26, Apakah Nama Baik itu Berkat atau Kutuk?
Apakah 1 Korintus 6:1-11 Melarang Orang Kristen Menempuh Jalur Hukum?
Bebas dari Hawa Nafsu (Galatia 5:24-26)
Donasi: Jika Anda merasa diberkati melalui situs ini dan ingin membantu agar situs ini tetap online, mohon pertimbangkan untuk memberikan donasi kecil untuk membantu biaya hosting dan bandwidth. Tidak ada minimum donasi, setiap jumlah sangat kami hargai. Terima kasih atas dukungan Anda.