REFORMED
EXODUS
COMMUNITY
Apakah Mereka yang Melihat Diberkati, atau Mereka yang Tidak Melihat Diberkati? (Luk. 10:23 vs Yoh. 20:29)
Artikel
Penulis Nike Pamela
Dalam Alkitab kita seringkali mendengar tentang orang Samaria, namun kita seringkali mengingatnya hanya dalam konteks perumpamaan orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37). Namun pernahkah terlintas dalam pikiran kita tentang alasan menggunakan orang Samaria dalam perumpamaan tersebut, mengapa bukan orang Yahudi atau orang lainnya? Kali ini kita akan menelusuri secara singkat tentang orang Samaria dan hubungan mereka dengan orang Yahudi.
Sebutan ‘orang Samaria’ (Ing: Samaritan) tidak ada hubungannnya dengan nama kota Samaria, ibukota kerajaan Isreal utara. Istilah “orang Samarian” berasal dari istilah shamerim, yang berarti “keepers of the law” (pemelihara taurat).
Dari sisi etnis, orang-orang Samaria adalah penduduk yang mendiami kota Samaria (ibukota Israel utara) setelah permulaan pembuangan orang Yahudi ke Babel (2 King-raja 17). Ketika orang-orang Asyur menyerbu kerajaan Israel utara pada tahun 722 SM, banyak penduduk kota Samaria yang dipindahkan dari kota itu sementara bangsa-bangsa lain berusaha mendiami Israel. Dalam catatan sejarah orang Asyur, Sargon sebagai raja Asyur saat itu, mengklaim bahwa dia mengangkut 27.290 penduduk kota Samaria. Pendatang-pendatang baru yang mendiami kota Samaria beribadah kepada dewa-dewa mereka sendiri, tetapi ketika mereka akhirnya diserbu oleh binatang-binatang yang ganas, maka mereka memohon kepada raja Asyur agar seorang imam Israel mengajarkan mereka beribadah kepada Allah negeri Samaria. Akibatnya terjadi sinkretisme agama di Samaria; pada satu waktu mereka menyembah Allah Israel tetapi di lain waktu mereka menyembah dewa-dewa mereka masing-masing.
Beberapa orang Samaria mengklaim bahwa mereka adalah keturunan bangsa Israel yang melarikan diri ketika mereka dibawa dan dibuang ke pembuangan.
Ada banyak versi yang berusaha memaparkan asal usul orang Samaria. Secara umum versi-versi tersebut dibagi menjadi 2:
Menurut orang Samaria sendiri.
Abu’l Fath, yang pada abad 14 M menuliskan banyak hal yang berhubungan dengan sejarah orang Samaria, menyatakan bahwa asal usul orang Samaria adalah sebagai berikut:
Suatu perang sipil yang sangat mengerikan terjadi antara Eli bin Yafni dari garis keturunan Itamar dengan anak-anak Pinehas karena Eli bin Yafni berubah pikiran untuk merampas kekuasaan imam besar dari garis keturunan Pinehas. Eli bin Yafni biasa mempersembahkan korban di sebuah mezbah batu. Dia berumur 50 tahun, dilimpahi dengan kekayaan dan berkuasa atas kekayaan umat Israel….
Dia mempersembahkan korban di sebuah mezbah, namun tanpa garam, seakan-akan dia kurang memperhatikan hal itu. Ketika Imam besar agung Ozzi mendengar tentang hal ini dan mendapati jika korban persembahan tersebut kurang berkenan, dia tidak lagi mau mengakui Eli bin Yafni; dan bahkan dapat dikatakan jika Ozzi memarahi Eli.
Oleh karena itu Eli dan kelompok orang yang bersimpati dengannya, mengadakan pemberontakan dan suatu waktu Eli dan pengikut-pengikutnya serta binatang-binatang buasnya menyerang Silo. Maka orang-orang Israel terpecah menjadi berbagai kelompok. Eli menyatakan kepada para pemimpin kelompok-kelompok itu, “Setiap orang yang mau melihat hal-hal yang luar biasa, datanglah kepadaku.” Selanjutnya dia mengumpulkan sejumlah besar orang di Silo dan mendirikan sebuah kuil untuknya di sana; Eli membangun sebuah tempat yang mirip sebuah kuil yang ada di Gunung Gerizim. Dia mendirikan sebuah mezbah, tanpa mengabaikan bagian-bagian kecilnya- secara keseluruhan mezbah itu sangat mirip dengan yang aslinya pada masing-masing bagiannya.
Dan umat Israel pada masa itu terbagi menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama melakukan segala sesuatu berdasarkan apa-apa yang sangat dibenci oleh orang-orang non-Yahudi dan menyembah allah lain; kelompok kedua mengikuti Eli bin Yafni meskipun banyak di antara mereka yang akhirnya berbalik darinya setelah Eli mengungkapkan maksud-maksudnya; dan kelompok ketiga bersama dengan imam besar Uzzi bin Bukki, tetap tinggal di tempat yang terpilih, yaitu Gunung Gerizim, di kota kudus Sikhem.
Midrash (Genesis Rabbah 94) mencatat tentang suatu percakapan antara Rabbi Meir dengan seorang Samaria.
Rabbi :Berasal dari suku manakah engkau?
Orang Samaria : Dari Yusuf.
Rabbi : Tidak
Orang Samaria : Kalau begitu, dari aman?
Rabbi : Dari Isakhar
Orang Samaria : Darimana kamu tahu?
Rabbi :Karena tertulis dalam Kej. 46:13 “Anak-anak Isakhar ialah Tola, Pua, Ayub dan Simron” (shamray). Inilah yang dimaksud dengan orang-orang Samaria).
Encyclopaedia Judaica (pada artikel “Samaritans”) meringkaskan pandangan masa lampau maupun masa kini tentang asal usul orang-orang Samaria:
Hingga pertengahan abad 20 merupakan suatu hal yang umum dipercayai bahwa orang-orang Samaria berasal dari campuran orang-orang yang tinggal di Samaria dan bangsa-bangsa lainnya pada masa penaklukan Samaria oleh orang-orang Asyur (722/1 SM). Catatan Alkitab dalam 2 Raja-raja 17 telah lama menjadi sumber yang tegas untuk membentuk catatan sejarah tentang asal-usul orang Samaria. Dengan mempertimbangkan kembali catatan Alkitab tersebut, maka tindakan itu menggiring pada usaha untuk memperhatikan kembali Daftar Riwayat orang-orang Samaria. DEngan penerbitan Chronicle II (Sefer ha-Yamim), maka catatan sejarah lenghkap versi orang Samaria suadh tersedia: daftar riwayat dan berbagai jenis tulisan dari orang-orang non-Samaria.
Menurut versi sebelumnya, orang-orang Samaria adalah keturunan langsung dari suku Yusuf, yaitu Efraim dan Manasye, dan hingga abad ke-17, mereka memiliki hubungan langsung dengan keturunan imam besar Harun melalui Eliezer dan Pinehas. Mereka mengklaim bahwa mereka terus mendiami daerah kekuasaan mereka sejak jaman dulu di Palestina bagian tengah dan hidup rukun dengan suku-suku Israel lainnya hingga saat Eli mengacaukan ibadah di daerah bagian utara dengan memindahkan pusat ibadah dari Sikhem ke Silo dan berusaha menarik orang-orang Israel di bagian utara untuk mengikuti ibadah mereka yang baru. Bagi orang-orang Samaria, tindakan ini merupakan perpecahan.
Terlepas dari versi mana yang benar atau salah, kisah tentang asal usul orang Samaria tetap merupakan misteri terselubung.
Dari 2 pandangan yang berbeda tentang asal usul orang Samaria, maka dapat diperhatikan bahwa antara orang Israel dan orang Samaria terjadi ‘permusuhan’ yang cukup tajam.
Ketika orang-orang Israel (Yahudi) kembali dari pembuangan pada tahun 538 SM, mereka mendapati jika daerah tempat tinggal mereka kini ditempati oleh orang-orang lain yang menegaskan bahwa daerah tersebut kini adalah milik mereka dan ibukota Israel yang dulu telah hancur.
Namun karena raja Persia memerintahkan orang-orang yang pulang dari pembuangan untuk membangun kembali Bait Suci mereka (2 Taw 36:22-23) di Yerusalem, maka mereka memulai pembangunan Bait Suci tersebut. Ezra 4 menceritakan bahwa penduduk negeri itu (inilah yang kemungkinan dimaksudkan sebagai orang-orang Samaria) menawarkan kerjasama untuk bersama-sama membangun kembali Bait Suci (Ezra 4:1-2). Namun orang-orang Yahudi yang kembali dari pembuangan menolak bantuan orang-orang Samaria itu karena mereka dianggap bukan lagi orang-orang Isreal yang murni karena mereka telah hidup bercampur dengan bangsa-bangsa kafir lainnya. Alkitab tidak menjelaskan secara rinci tentang pertikaian yang muncul antara orang-orang Yahudi dan Samaria selanjutnya. Bait Suci di Yerusalem selesai dibangun sekitar tahun 515 SM. Karena orang-orang Samaria ditolak untuk berpartisipasi dalam pembangunan maupun ibadah di Yerusalem, maka sekitar tahun 330 SM orang-orang Samaria telah membangun Bait Suci mereka di Gunung Gerizim, dekat Sikhem, sebagai tandingannya.
Secara umum agama orang Samaria dapat digambarkan sebagai berikut:
Berikut adalah beberapa penjelasan singkat tentang perbedaan tajam antara orang Yahudi dan Samaria yang berhubungan dengan kehidupan religi mereka.
Gunung Gerizim
Gunung Gerizim adalah gunung di sebelah selatan lembah yang terletak di Sikhem (sekarang adalah Jabal al-Tur). Jika orang Yahudi yang pulang dari pembuangan tetap mempertahankan Yerusalem sebagai pusat ibadah mereka (Ezra 6:13-22), orang Samaria memilih gunung Gerizim sebagai pusat ibadah mereka. Pengagungan orang Samaria pada gunung Gerizim didasarkan pada beberapa ayat berikut:
Sekitar tahun 330 SM, mezbah di gunung Gerizim berhasil didirikan. Orang-orang Samaria berpendapat bahwa posisi mezbah di gunung Gerizim ini tepat seperti posisi Bait Suci yang dihancurkan oleh Nebukadnezar. Menurut Josephus, gambaran mezbah di gunung Gerizim memang tepat seperti mezbah yang ada di Yerusalem.
Ketegangan antara orang-orang Yahudi dan Samaria semakin memuncak dengan penghancuran mezbah gunung Gerizim oleh John Hirkanus (menurut Josephus) atau Simeon the Just (menurut Talmud) pada abad ke-2 SM.
Samaritan Pentateuch
Mereka memiliki Taurat (sama seperti orang Yahudi), namun mereka hanya mengakui Taurat yang diberikan Allah melalui Musa. Dengan kata lain, mereka hanya menerima kitab Pentateukh sebagai Kitab Suci mereka. Namun Pentateukh yang mereka miliki berbeda dengan Pentateukh versi Masoret Teks dalam 6000 tempat. Perbedaannya terletak pada perbedaan pengucapan, tata bahasa namun dalam 1600 tempat, Pentateukh mereka memiliki kesamaan dengan Septuaginta.
Beberapa contoh perbedaan teks dalam Samaritan Pentateuch dengan Masoret Teks:
Masoret Teks:
Samaritan Pentateukh:
Sepuluh Perintah Allah
Mereka memiliki versi sepuluh perintah Allah yang berbeda dari milik orang Yahudi, misalnya perintah Allah yang ke-10 berisi perintah untuk menguduskan Gunung Gerizim.
And it shall be that when God shall bring thee into the land of Canaanite, which thou shalt enter to inherit it; there shalt thou set up large stones, and thou shalt plaster them with plaster, and thou shalt write upon the stones all the words of this law. And when ye shall cross the Jordan, ye shall set up these stones, as I am commanding you, in Mount Gerizim. And ye shall build there an altar for the Lord your God, and thou shalt offer thereupon offerings for the Lord your God.” (Ketika Allah menyeberangkan engkau ke negeri yang telah dijanjikan yaitu tanah Kanaan, maka engkau harus menyusun batu-batu besar di sana dan engkau kapuri batu-batu itu dan engkau harus menuliskan semua perkataan firman ini di atas batu itu. Dan ketika engkau menyeberangi sungai Yordan, engkau harus mengatur batu-batu itu sebagaimana yang telah kuperintahkan kepadamu di gunung Gerizim. Dan engkau harus mendirikan sebuah mezbah bagi Tuhan Allahmu dan engkau harus mempersembahkan korban bagi Tuhan Allahmu).
NK_P
Artikel Lainnya
Apakah Mereka yang Melihat Diberkati, atau Mereka yang Tidak Melihat Diberkati? (Luk. 10:23 vs Yoh. 20:29)
Bagaimana Kita Dapat Merasa “Lapar dan Haus Akan Kebenaran”?
Eksposisi Filipi 4:18-20
Menurut Lukas 6:26, Apakah Nama Baik itu Berkat atau Kutuk?
Apakah 1 Korintus 6:1-11 Melarang Orang Kristen Menempuh Jalur Hukum?
Bebas dari Hawa Nafsu (Galatia 5:24-26)
Donasi: Jika Anda merasa diberkati melalui situs ini dan ingin membantu agar situs ini tetap online, mohon pertimbangkan untuk memberikan donasi kecil untuk membantu biaya hosting dan bandwidth. Tidak ada minimum donasi, setiap jumlah sangat kami hargai. Terima kasih atas dukungan Anda.