REFORMED
EXODUS
COMMUNITY
Apakah Mereka yang Melihat Diberkati, atau Mereka yang Tidak Melihat Diberkati? (Luk. 10:23 vs Yoh. 20:29)
Artikel
Penulis Nike Pamela
Istilah Firaun pertama kali muncul di Alkitab dalam Kejadian 12:15. Selanjutnya nama Firaun terus bermunculan dalam kisah Yusuf. Keluaran 1:8 menyatakan bahwa ada seorang raja baru yang memerintah Mesir namun dia tidak mengenal Yusuf. Dan Alkitab selanjutnya terus memakai nama Firaun untuk merujuk pada raja tersebut.
Istilah ‘Firaun’ sebenarnya tidak pernah dipakai oleh orang Mesir kuno sendiri untuk menyebut raja mereka hingga pada pemerintahan dinasti ke-18. Istilah Firaun kita kenal dari bahasa Yunani dan penggunaannya di Perjanjian Lama.
Dari segi etimologinya, ‘Firaun’ berasal dari bahasa Mesir Per-Aa. Ada yang menafsirkan istilah ini merupakan gabungan dari kata Ra, artinya matahari atau dewa matahari dan kata pre yang merujuk para artikel ‘the’ atau ‘sebelumnya’ sehingga Per-Aa berarti ‘Sang dewa matahari’. Namun arti yang paling tepat dari kata Per-Aa ini adalah ‘Rumah yang besar’ (Great House). Pada awalnya istilah ini dipakai untuk merujuk pada bangunan istana yang menjadi tempat tinggal raja dalam pengertian bahwa Per-Aa ini bertanggung jawab sepenuhnya terhadap sistim perpajakan yang dikenakan pada rumah-rumah yang lebih kecil (Perw) yang biasanya berupa tempat ibadah atau rumah pribadi.
Pada akhir abad ke-12, penulisan di atas diganti dan ditambahi sehingga artinya bukan hanya ‘Great House’, tetapi menjadi ‘Great House, may it live, prosper and be in health.” Tetapi perubahan ini belum mengubah artinya sebagai suatu bangunan. Baru pada dinasti ke-18 terjadi perubahan berarti dari arti kata tersebut: dari bangunan istananya berubah menjadi rajanya sendiri. Contoh paling awal yang didapatkan tentang pergantian arti istilah ini adalah sebuah surat yang ditujukan kepada Amenhotep IV (Akhenaten) dengan sebutan “Pharaoh, given life, prosperity and health, the Master.” Dan mulai dinasti ke-19, istilah ini semakin popular merujuk pada raja Mesir dan istilah Firaun ini disejajarkan dengan istilah yang berarti “Yang Terhormat” (His Majesty). Sekitar dinasti ke-22-23, banyak istilah Mesir kuno yang seringkali menyebutkan Firaun dengan par-ʕoʔ. Dan puncaknya terjadi bahwa penyebutan Firaun diikuti dengan namanya sekaligus (bdg. Firaun Hofra dalam Yer. 44:30) pada pemerintahan dinasti ke-22. Istilah par-ʕoʔ selanjutnya diambil oleh bahasa Yunani kuno dengan pharaō dan Latin kuno menyebutkannya dengan pharaō..Dan selanjutnya bahasa Inggris mengadopsinya dengan istilah ‘pharaoh.’
Untuk menjadi seorang Firaun, seorang laki-laki harus menikahi seorang perempuan yang memiliki darah ningrat dan biasanya perempuan itu adalah anak perempuan tertua dari Firaun sebelumnya. Hal ini terjadi karena dalam budaya Mesir, yang mewariskan darah ningrat adalah seorang perempuan, bukan laki-laki.
Menjelang akhir periode yang disebut Middle Kingdom (2133-1786), masing-masing raja Mesir yang akan naik tahta, akan memiliki 5 nama: 1 nama yang diperolehnya ketika dia lahir dan 4 nama lainnya yang diberikan saat dia dinobatkan menjadi Firaun. Dari kelima nama tersebut, 2 bagian yang paling penting, yaitu nama lahirnya dan nama ketika dia tahta. Dan nama seorang Firaun ketika dia naik tahta itulah yang menjadi namanya kelak. Misalnya nama lahir Tutankhaten dan namanya saat naik tahta menjadi Tutankhamun, maka Firaun ini selanjutnya akan terkenal dengan nama Tutankhamun, bukan Tutankhaten.
Contoh dari raja Tut
Pertama Horus Firaun mengidentifikasikan dirinya dengan burung elang dewa Hor (Horus) Ka-nakht tut-mesut, yang berarti “Strong Bull, Fitting from Created Forms.”
Kedua Nebti (2 wanita). Nama ini merujuk pada nama 2 dewi Wadjet and Nekhbet, dalam wujud seekor kobra dan burung heringnNefer-hepu Segereh-tawy Sehetep-netjeru Nebu, yang berarti “Dynamic of Laws, Who Calms the Two Lands, Who Propitiates all the Gods.”
Ketiga Golden Horus Nama ini disimbolkan dalam bentuk burung elang (lambing dewa Horus) yang sedang duduk di atas puncak (simbol emas) Wetjes-khau Sehetep-netjeru, yang berarti “Who Displays the regalia, Who Propitiates the Gods.”
Keempat Penobatan menjadi raja Nama ini sangat membantu untuk membedakan firaun-firaun yang memiliki nama lahir yang sama (ada 11 Rameses dan 7 Cleopatra). Nama ini disimbolkan dengan sedge……dan tawon (symbol darti Mesir bawah dan atas) Nesut Bit Nebkheperure, yang berarti “King of Upper and Lower KMT, Lord of Manifestations is Re.”
Kelima Lahir Nama lahir biasanya dimulai dengan Sare yang artinya anak Ra (dewa matahari) Nama lahir :Sa re Tutankhaten Heqaiunushema, yang artinya, “Son of Re, Living Image of the Aten, Ruler of Upper Egyptian Iunu.” Setelah menjadi raja, King Tut mengubah namanya dari Tutankhaten menjadi Tutankhamun, artinya “Living Image of Amun.” Iunu adalah kota yang dekat dengan Kairo yang disebut dengan Heliopolis (“City of the Sun”) oleh orang Yunani
Referensi Alkitab & Keterangan
Raja Mesir yang berkuasa saat itu kemungkinan adalah salah seorang Hyksos (shepherd kings). Hyksos adalah orang-orang Semit yang berhasil menguasai Mesir dari sejak dinasti ke-13 dan mengokohkan dirinya pada dinasti ke-15. kekuasaan Hysos berakhir pada dinasti ke-17.
Raja Mesir yang berkuasa pada saat Yusuf ada di Mesir (di rumah Potifar) adalah salah seorang Hyksos.
Raja Mesir yang berkuasa pada saat Yusuf menjadi perdana menteri adalah Apopi (s), dinasti terakhir dari raja Hyksos. Hal ini dimungkinkan dengan adanya sambutan yang hangat terhadap saudara-saudara Yusuf yang adalah gembala kambing domba (Kej. 46:34; 47:5-6) padahal orang Mesir sangat tidak suka dengan gembala kambing domba (46:34b).
Raja Mesir yang tidak mengenal Yusuf kemungkinan adalah:
Rameses II, anak Seti I kemungkinan adalah raja Mesir yang menindas orang Ibrani yang ada di Mesir hingga Musa melarikan diri ke Midian. Dan selama Musa berada di Midian, Rameses mati (setelah 67 tahun pemerintahannya), bdg. Kel. 2:23. Dan sebelum Musa kembali ke Mesir dari Midian, ada seorang raja Mesir (tidak diketahui namanya) yang berkuasa di Mesir.
Dan sebelum Musa kembali ke Mesir dari Midian, ada seorang raja Mesir (tidak diketahui namanya) yang berkuasa di Mesir.
Raja yang berkuasa dan sekaligua menjadi mertua Salomo kemungkinan adalah Haremheb. Hal ini didukung oleh fakta bahwa raja pendahulunya, seperti Amenhotep III, tidak mengijinkan anak perempuannya dikawinkan dengan orang di luar Mesir (raja Mitanni meminta anak gadis Amenhotep sebagai materai persaudaraan di antara mereka). Pada masa pemerintahan Haremheb-lah baru diijinkan seorang putri Mesir untuk kawin dengan bangsa lain dengan pertimbangan:
Anak Firaun (tidak diketaui namanya), Bica, kawin dengan Mered, salah seorang keturunan Yehuda.
Zerah (para ahli sejarah memanggilnya dengan Osorchon) adalah raja atas Mesir dan Etiopia pada jaman Asa
So (Sevechus) adalah raja Mesir yang hidup sejaman dengan Ahaz dan Hosea
Tirhaka, raja Etiopia dan Mesir, adalah raja yang berkuasa saat Hizkia mempercayakan diri dan kerajaannya terhadap serangan Sanherib
NK_P
Artikel Lainnya
Apakah Mereka yang Melihat Diberkati, atau Mereka yang Tidak Melihat Diberkati? (Luk. 10:23 vs Yoh. 20:29)
Bagaimana Kita Dapat Merasa “Lapar dan Haus Akan Kebenaran”?
Eksposisi Filipi 4:18-20
Menurut Lukas 6:26, Apakah Nama Baik itu Berkat atau Kutuk?
Apakah 1 Korintus 6:1-11 Melarang Orang Kristen Menempuh Jalur Hukum?
Bebas dari Hawa Nafsu (Galatia 5:24-26)
Donasi: Jika Anda merasa diberkati melalui situs ini dan ingin membantu agar situs ini tetap online, mohon pertimbangkan untuk memberikan donasi kecil untuk membantu biaya hosting dan bandwidth. Tidak ada minimum donasi, setiap jumlah sangat kami hargai. Terima kasih atas dukungan Anda.